Di tengah-tengah persaingan gadget yang semakin canggih, ternyata masih ada juga sekelompok warga yang menolak modernisasi itu sendiri. Sebut saja suku Kajang yang ada di Sulawesi Selatan.
Adat Istiadat mereka sering dijadikan benteng terhadap modernisasi. Itu terbukti dengan aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan mereka yang tidak mau menerima sesuatu yang berkaitan dengan kecanggihan teknologi saat ini.
Daerah yang berjarak 200 km ke arah timur Kota Makassar ini mempunyai ciri khas memakai pakaian serba hitam, sorban warna hitam, serta tidak menggunakan alas kaki.
Tradisi ini merupakan turunan dari nenek moyang mereka yang dikenal dengan istilah "pappasang", ini adalah hukum lisan yang sama sekali tidak boleh dilanggar. Karena, Pappasang ini merupakan sumber cara hidup dan adat mereka.
Salah satu bunyi yang ada di "pappasang" adalah "Kajang, tana kamase-masea", (Kajang tanah yang sederhana/miskin). Berdasarkan hal inilah masyarakat suku kajang tidak mau menerima kemewahan duniawi. Bagi mereka, siapa yang ingin kaya, silahkan keluar dari daerah itu.
Menurut "amma toa" (sebutan bagi kepala adat suku kajang), kemewahan dunia berarti menolak semua paham dari luar serta program-program pemerintah yang dianggap melanggar "pappasang." contohnya saja, pemasangan listrik dan pembuatan jalan raya yang mereka nilai sebagai suatu kemewahan.
Akan tetapi, secara geografis suku Kajang dibagi menjadi 2 (dua) bagian yakni kajang dalam ("tau kajang") dan kajang luar ("tau lembang"). Kajang luar atau "tau lembang" adalah masyarakat yang berdiam di sekitar suku Kajang yang relatif modern.
Bagi masyarakat dari luar yang ingin berkunjung ke daerah ini, haruslah menyesuaikan adat-istiadat serta semua peraturan yang ada. Salah satu diantaranya, tidak boleh menggunakan pakaian yang mencolok yang mencerminkan kemewahan. Dan juga, pengunjung dilarang keras memakai sendal atau sepatu, apabila hal ini terjadi, maka pengunjung akan dikenakkan sanksi adat atau tidak diperbolehkan masuk ke daerah itu.
Adat Istiadat mereka sering dijadikan benteng terhadap modernisasi. Itu terbukti dengan aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan mereka yang tidak mau menerima sesuatu yang berkaitan dengan kecanggihan teknologi saat ini.
Daerah yang berjarak 200 km ke arah timur Kota Makassar ini mempunyai ciri khas memakai pakaian serba hitam, sorban warna hitam, serta tidak menggunakan alas kaki.
Tradisi ini merupakan turunan dari nenek moyang mereka yang dikenal dengan istilah "pappasang", ini adalah hukum lisan yang sama sekali tidak boleh dilanggar. Karena, Pappasang ini merupakan sumber cara hidup dan adat mereka.
Salah satu bunyi yang ada di "pappasang" adalah "Kajang, tana kamase-masea", (Kajang tanah yang sederhana/miskin). Berdasarkan hal inilah masyarakat suku kajang tidak mau menerima kemewahan duniawi. Bagi mereka, siapa yang ingin kaya, silahkan keluar dari daerah itu.
Menurut "amma toa" (sebutan bagi kepala adat suku kajang), kemewahan dunia berarti menolak semua paham dari luar serta program-program pemerintah yang dianggap melanggar "pappasang." contohnya saja, pemasangan listrik dan pembuatan jalan raya yang mereka nilai sebagai suatu kemewahan.
Akan tetapi, secara geografis suku Kajang dibagi menjadi 2 (dua) bagian yakni kajang dalam ("tau kajang") dan kajang luar ("tau lembang"). Kajang luar atau "tau lembang" adalah masyarakat yang berdiam di sekitar suku Kajang yang relatif modern.
Bagi masyarakat dari luar yang ingin berkunjung ke daerah ini, haruslah menyesuaikan adat-istiadat serta semua peraturan yang ada. Salah satu diantaranya, tidak boleh menggunakan pakaian yang mencolok yang mencerminkan kemewahan. Dan juga, pengunjung dilarang keras memakai sendal atau sepatu, apabila hal ini terjadi, maka pengunjung akan dikenakkan sanksi adat atau tidak diperbolehkan masuk ke daerah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar