Apa yang tercipta, merupakan jawaban dari putaran waktu yang Tuhan telah sediakan. buatku...emosi, ego, luapan air mata, tetes air mata, serta impian akan jadi suatu pengakuan yang penuh arti untuk perjalanan sepanjang hidupku..
Senin, 05 Desember 2011
Sabtu, 03 Desember 2011
Jumat, 02 Desember 2011
Dulu, saat itu, ini dan Nanti
Dulu...
Pesona dan Wujudmu ada di lembaran itu
Raut dan atraksimu berlomba merayuku
Imajinasi dan Ilusiku sarat tentangmu
Kesempurnaan itu...
Saat itu...
Pesona indahmu pudar di atas angan
atraksimu tak lagi bernilai
tak ada ruang yang layak mengisi kesempurnaan itu
Saat ini...
Kau menjadi budak pilihanmu
Kau merongrong kesakitan
Kau berkabung dengan egomu
Nanti...
Imajinasiku dan Egomu tak lagi bersahabat
Tawaran kebahagiaan itu hanyalah sampah
hasrat bersatu hanyalah tangisan haru
Pesona dan Wujudmu ada di lembaran itu
Raut dan atraksimu berlomba merayuku
Imajinasi dan Ilusiku sarat tentangmu
Kesempurnaan itu...
Saat itu...
Pesona indahmu pudar di atas angan
atraksimu tak lagi bernilai
tak ada ruang yang layak mengisi kesempurnaan itu
Saat ini...
Kau menjadi budak pilihanmu
Kau merongrong kesakitan
Kau berkabung dengan egomu
Nanti...
Imajinasiku dan Egomu tak lagi bersahabat
Tawaran kebahagiaan itu hanyalah sampah
hasrat bersatu hanyalah tangisan haru
Kamis, 01 Desember 2011
Introspeksi Part I
Mencari Penghiburan Sejati hanya di dalam hadiratNya. STOP untuk mencari dan mengandalkan manusia dalam kesepian dan kesendirian kita. Penyerahan diri sepenuhnya di dalam Dia sang Penghiburan sejati, adalah cara yang paling efektif melewati semuanya.
Diam Keabadian
ku rapuh melihatmu dalam bingkai itu
jerit tangismu menusuk hatiku
apa gerangan yang terjadi
Tuhan, ku bingung dengan semua ini
ku hanya bisa melihatmu dalam diam
kesengsaraan yang terasa semakin mengusikku
kini kau bisu tentang semuanya
tak ada yang bisa membuatmu bersua canda denganku
dalam diam keabadianmu
kau seakan terus merongrong kesakitan
kau pergi...
jerit tangismu menusuk hatiku
apa gerangan yang terjadi
Tuhan, ku bingung dengan semua ini
ku hanya bisa melihatmu dalam diam
kesengsaraan yang terasa semakin mengusikku
kini kau bisu tentang semuanya
tak ada yang bisa membuatmu bersua canda denganku
dalam diam keabadianmu
kau seakan terus merongrong kesakitan
kau pergi...
Senarai Dari Air Mata
Andai udara menyisihkan sedikit dirinya buat nafasmu
Akan ku katakan cintaku dengan ujaran yang sempurna
Yang bersisa kini percakapan bunga dengan matahari
Pada setiap lempengan pagi yang dirembesi sepi dan ngilu
Kata-kata beku di mulutku
Yang abadi hanya rindu
Harusnya cinta tak memilih waktu
Hingga aku tak butuh hari
Buat mengujar perasaan yang kumengerti
Lalu kau bergegas pergi
Sebelum kata selesai kususun
Menjawab tanyamu
Kini aku terus menyusun kata itu
Kata yang tak mungkin ku ujar padamu
Inilah airmataku cintaku
Bahasa bisu yang dibaca Tuhan buatmu
Ketika tanganku tak bisa lagi meraba detakkan nadimu
Biarlah Tuhan mengatakannya padamu:
“Aku Cinta Kamu”
Akan ku katakan cintaku dengan ujaran yang sempurna
Yang bersisa kini percakapan bunga dengan matahari
Pada setiap lempengan pagi yang dirembesi sepi dan ngilu
Kata-kata beku di mulutku
Yang abadi hanya rindu
Harusnya cinta tak memilih waktu
Hingga aku tak butuh hari
Buat mengujar perasaan yang kumengerti
Lalu kau bergegas pergi
Sebelum kata selesai kususun
Menjawab tanyamu
Kini aku terus menyusun kata itu
Kata yang tak mungkin ku ujar padamu
Inilah airmataku cintaku
Bahasa bisu yang dibaca Tuhan buatmu
Ketika tanganku tak bisa lagi meraba detakkan nadimu
Biarlah Tuhan mengatakannya padamu:
“Aku Cinta Kamu”
Sajak Terakhir
Saat sajak ini terukir
bayangmu kian mengusikku
menghantui di setiap liku
menjadi teman saat sang bintang hadir
semerbak aromamu menusuk tajam
hingga ku letih dan meronta
ku singkapkan semua diam
ku menunggu kau berkata-kata
kapan kau berucap
kapan kau mengadu
kapan kau bertatap
kapan kau bergurau
jagad raya ini bisu
tak ada satu angkatan pun yang tahu
jawaban dari sang Maha Agung
menjawab semua tanyaku
indah namun tak sempurna
sang bintang pun senyum melihatku
semua tentangnya
semua tentangku
kisahmu telah tertanam di sanubariku
semuanya beriringan mengagumiku
sirna namun tak berakhir
menepi namun tak akan hanyut
kisahmu akan ku abadikan
di sajak terakhirku.
bayangmu kian mengusikku
menghantui di setiap liku
menjadi teman saat sang bintang hadir
semerbak aromamu menusuk tajam
hingga ku letih dan meronta
ku singkapkan semua diam
ku menunggu kau berkata-kata
kapan kau berucap
kapan kau mengadu
kapan kau bertatap
kapan kau bergurau
jagad raya ini bisu
tak ada satu angkatan pun yang tahu
jawaban dari sang Maha Agung
menjawab semua tanyaku
indah namun tak sempurna
sang bintang pun senyum melihatku
semua tentangnya
semua tentangku
kisahmu telah tertanam di sanubariku
semuanya beriringan mengagumiku
sirna namun tak berakhir
menepi namun tak akan hanyut
kisahmu akan ku abadikan
di sajak terakhirku.
Rabu, 19 Oktober 2011
Titik jenuh
Pernahkah terlintas kau akan bahagiakanku?
Pernahkah benakmu bicara soal perasaanku?
Pernahkah hatimu mengasihani imajinasiku?
Muak dengan semua inginmu
lelah dengan semua bayang ilusimu
Kejenuhan kini menyapaku
Semua tentangmu JAHAT di matanya
Semua tawamu, luka di hatinya
Takkan pernah jenuh itu menjahuiku lagi
dia adalah pengacara terhebatku
yang membuat kau tak lagi berkutik
Pembelaanmu tak ada guna
ku bersyukur dengan hadirnya.
Pernahkah benakmu bicara soal perasaanku?
Pernahkah hatimu mengasihani imajinasiku?
Muak dengan semua inginmu
lelah dengan semua bayang ilusimu
Kejenuhan kini menyapaku
Semua tentangmu JAHAT di matanya
Semua tawamu, luka di hatinya
Takkan pernah jenuh itu menjahuiku lagi
dia adalah pengacara terhebatku
yang membuat kau tak lagi berkutik
Pembelaanmu tak ada guna
ku bersyukur dengan hadirnya.
Langganan:
Postingan (Atom)


