Andai udara menyisihkan sedikit dirinya buat nafasmu
Akan ku katakan cintaku dengan ujaran yang sempurna
Yang bersisa kini percakapan bunga dengan matahari
Pada setiap lempengan pagi yang dirembesi sepi dan ngilu
Kata-kata beku di mulutku
Yang abadi hanya rindu
Harusnya cinta tak memilih waktu
Hingga aku tak butuh hari
Buat mengujar perasaan yang kumengerti
Lalu kau bergegas pergi
Sebelum kata selesai kususun
Menjawab tanyamu
Kini aku terus menyusun kata itu
Kata yang tak mungkin ku ujar padamu
Inilah airmataku cintaku
Bahasa bisu yang dibaca Tuhan buatmu
Ketika tanganku tak bisa lagi meraba detakkan nadimu
Biarlah Tuhan mengatakannya padamu:
“Aku Cinta Kamu”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar